MAKALAH PENULISAN KARYA ILMIAH
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang Masalah
Karya
ilmiah merupakan karya tulis yang isinya berusaha memaparkan suatu pembahasan
secara ilmiah yang dilakukan oleh seorang penulis atau peneliti. Untuk
memberitahukan sesuatu hal secara logis dan sistematis kepada para pembaca.
Karya ilmiah biasanya ditulis untuk mencari jawaban mengenai sesuatu hal dan
untuk membuktikan kebenaran tentang sesuatu yang terdapat dalam objek tulisan.
1.1
Rumusan
Masalah
Ø Apa
yang membedakan karya ilmiah dengan karya tulis lainnya ?
Ø Mengapa
seorang penyusun karya ilmiah disebut sebagai penulis ?
Ø Apa
yang membedakan karya ilmiah populer dengan karya ilmiah yang pada umumnya ?
1.3
Maksud
dan Tujuan
Ø Mampu
menjelaskan pengertian atau konsep karya ilmiah.
Ø Mampu
menjelaskan prinsip-prinsip umum yang mendasari penulisan sebuah karya ilmiah.
Ø Mampu
menjelaskan ciri-ciri karya ilmiah.
Ø Mampu
menjelaskan ragam ilmiah.
Ø Mampu
menjelaskan pengertian laras ilmiah.
Ø Mampu
menjelaskan pengertian laras ilmiah populer.
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1
Konsep
tentang Karya Ilmiah
Karya ilmiah merupakan karya tulis yang
isinya berusaha memaparkan suatu pembahasan secara ilmiah yang dilakukan oleh
seorang penulis atau peneliti. Untuk memberitahukan sesuatu hal secara logis
dan sistematis kepada para pembaca. Karya ilmiah biasanya ditulis untuk mencari
jawaban mengenai sesuatu hal dan untuk membuktikan kebenaran tentang sesuatu
yang terdapat dalam objek tulisan.
Isitilah karya ilmiah di sini yaitu
mengacu kepada karya tulis yang menyusun dan penyajiannya didasarkan pada
kajian ilmiah dan cara kerja ilmiah. Di lihat dari panjang pendeknya atau
kedalaman uraian, karya tulis ilmiah dibedakan atas makalah (paper) dan laporan penelitian,
didasarkan pada kajian ilmiah dan cara kerja ilmiah. Penyusunan dan penyajian
karya semacam itu didahului oleh studi pustaka dan lapangan.(Azyumardi, 2008:
111)
Karangan ilmiah ialah karya tulis yang
memaparkan pendapat, gagasan, tanggapan, atau hasil penelitian yang berhubungan
dengan kegiatan keilmuan.
Jenis karangan ilmiah banyak sekali, di
antaranya makalah, skripsi, tesis, disertasi, dan laporan penelitian. Kalaupun
jenisnya berbeda-beda, tetapi kelima-limanya bertolak dari laporan, kemudian
diberi komentar dan saran. Perbedaannya hanyalah dalam kekompleksannya.
Finoza dalam Alamsyah (2008: 98),
mengklasifikasikan karangan menurut bobot isinya atas tiga jenis yaitu: (1)
karangan ilmiah; (2) karangan semi ilmiah atau ilmiah populer; dan (3) karangan
non-imiah. Yang tergolong ke dalam
karangan ilmiah antara lain makalah, laporan, skripsi, tesis, dan
disertasi; yang tergolong karangan semi ilmiah antara lain artikel,
editorial,opini, feature, reportase;
dan yang tergolong karya ilmiah dalam karangan non-ilmiah antara lain anekdot,
opini, dongeng, cerpen, novel, roman, dan naskah drama.
Ketiga jenis karangan tersebut memiliki
karakteristik yang berbeda. Karangan ilmiah memiliki aturan baku dan sejumlah
persyaratan khusus yang menyangkut metode dan penggunaan bahasa. Adapun
karangan non-ilmiah adalah karangan yang tidak terikat pada karangan baku,
sedangkan karangan semi ilmiah berada di antara keduanya.
Sementara itu, Yamilah dan Samsoerizal
(1994; 90), memaparkan bahwa ragam karya ilmiah terdiri atas beberapa jenis
berdasarkan fungsinya. Menurut pengelompokan itu dikenal ragam karya seperti
makalah, skripsi, tesis, dan disertasi.
Jadi, karya ilmiah didefinisikan sebagai
karya tulis yang memaparkan ide atau gagasan, pendapat, tanggapan, fakta, dan
hasil penelitian yang berhubungan dengan segala kegiatan keilmuan dan
mengunakan ragam bahasa keilmuan.
2.2
Prinsip-prinsip
Umum yang Mendasari Penulisan sebuah Karya Ilmiah
a.
Objektif, artinya
setiap pernyataan ilmiah dalam karyanya harus didasarkan kepada data dan fakta.
Kegiatan ini disebut studi empiris. Objektif dan empiris merupakan dua hal yang
bertautan.
b.
Prosedur atau
penyimpulan penemuannya melalui penalaran induktif dan deduktif.
c.
Rasional dalam
pembahasan data. Seorang penulis karya ilmiah dalam menganalisis data harus
menggunakan pengalaman dan pikiran secara logis.
2.3
Ciri-ciri
Karya Ilmiah
a. Logis,
artinya segala keterangan yang disajikan dapat diterima oleh akal.
b. Sistematis,
artinya segala yang dikemukakan disusun dalam urutan yang memperlihatkan adanya
kesinambungan.
c. Objektif,
artinya segala keterangan yang dikemukakan menurut apa adanya.
d. Lengkap,
artinya segi-segi masalah yang diungkapkan itu dikupas selengkap-lengkapnya.
e. Lugas,
artinya pembicaraan langsung kepada hal pokok.
f. Saksama,
maksudnya berusaha menghindarkan diri dari segala kesalahan betapa pun
kecilnya.
g. Jelas,
segala keterangan yang dikemukakan dapat mengungkapkan maksud secara jernih.
h. Kebenarannya
dapat diuji (empiris).
i.
Terbuka, yakni konsep
atau pandangan keilmuan dapat berubah seandainya muncul pendapat baru.
j.
Berlaku umum, yaitu
semua simpulan-simpulannya berlaku bagi semua populasinya.
k. Penyajiannya
menggunakan ragam bahasa ilmiah dan bahasa tulis yang lazim.
l.
Tuntas, artinya segi
masalah dikupas secara mendalam dan selengkap-lengkapnya.
Pengetahuan manusia tentang alam itu berbeda-beda, baik kualitasnya
maupun kuantitasnya. Hal ini disebabkan
adanya perbedaan dalam cara memperolehnya. Ada yang melalui proses
pengenalan sepintas atau alami (disebut pengetahuan) ; ada yang melalui proses
pengenalan secara saksama dan menggunakan cara tertentu yang disebut metode
ilmiah atau penelitian (inilah yang disebut ilmu). Secara etimologi, makna
kedua kata itu (pengetahuan dan ilmu) ialah sama.
Pada dasarnya, metode ilmiah menggunakan
dua pendekatan yaitu:
1. Pendekatan
rasional, berupaya merumuskan kebenaran berdasarkan kajian data yang diperoleh
dari berbagai rujukan (literatur).
2. Pendekatan
empiris, berupaya merumuskan kebenaran berdasarkan fakta yang diperoleh dari
lapangan atau hasil percobaan (laboratorium).
Jadi, dapat dikatakan bahwa ilmu itu
merupakan pengetahuan yang sistematis dan diperoleh melalui pendekatan raional
dan empiris.
Manusia sebagai makhluk budaya berusaha
melestarikan ilmu yang diperolehnya. Tujuannya ialah khazanah ilmu yang sangat
berharga itu dimanfaatkan tidak hanya oleh penemunya atau sekelompok orang,
tetapi dapat dimanfaatkan pula oleh umat manusia, baik manusia kini maupun yang
akan datang. Hal ini sesuai dengan salah satu sifat ilmu yaitu universal. Untuk
mencapai tujuan tersebut dibuat dokumen ilmu yang antara lain lazim disebut
karya tulis ilmiah (karangan ilmiah).
Jadi, pada hakikatnya karya tulis itu
merupakan dokumen tentang segala temuan manusia yang diperoleh dengan metode
ilmiah dan disajikan dengan bahasa khas serta ditulis menurut konvensi
tertentu. Yang dimaksud dengan bahasa khas ilmiah yaitu bahasa yang ringkas
(hemat), jelas, cermat, baku, lugas, denotatif, dan runtun.
Dalam kaitan upaya pemanfaatan ilmu oleh
umat manusia secara universal tadi, maka perlu dilakukan penyebarluasan melalui
alat komunikasi yang efektif dan efisien. Penemuan-penemuan baru yang
bermanfaat bagi kesejahteraan umat manusia perlu segera disebarluaskan. Di
sinilah arti penting sebuah karya tulis ilmiah.
Adapun karangan ilmiah itu memiliki
beberapa tujuan antara lain:
1. Memberi
penjelasan.
2. Memberi
komentar atau penilaian.
3. Memberi
saran.
4. Menyampaikan
sanggahan.
5. Membuktikan
hipotesis.
2.4
Ragam
Ilmiah
Bahasa ragam ilmiah merupakan ragam
bahasa berdasarkan pengelompokan menurut jenis pemakaiannya dalam bidang
kegiatan sesuai dengan sifat keilmuannya. Bahasa Indonesia harus memenuhi syarat
diantaranya benar (sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia baku), logis, cermat,
dan sistematis.
Pada bahasa ragam ilmiah, bahasa,
bentuk, luas, dan ide yang disampaikan melalui bahasa itu sebagai bentuk dalam,
tidak dapat dipisahkan. Hal ini terlihat pada ciri bahasa ilmu, seperti berikut
ini.
1. Baku.
Struktur bahasa yang digunakan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia baku, baik
mengenai struktur kalimat maupun kata. Demikian juga pemilihan kata istilah dan
penulisan yang sesuai dengan kaidah ejaan.
2. Logis.
Ide atau pesan yang disampaikan melalui bahasa Indonesia ragam ilmiah dapat
diterima akal. Contoh: “Masalah pengembangan dakwah kita tingkatkan.” Ide
kalimat di atas tidak logis. Pilihan kata “masalah”, kurang tepat. Pengembangan
dakwah mempunyai masalah kendala. Tidak logis apabila masalahnya kita
tingkatkan. Kalimat di atas seharusnya “Pengembangan dakwah kita tingkatkan.”
3. Kuantitatif.
Keterangan yang dikemukakan pada kalimat dapat diukur secara pasti. Contoh:
Da’i di Gunung Kidul “kebanyakan” lulusan perguruan tinggi. Arti kata
kebanyakan relatif, mungkin bisa lima, enam atau sepuluh orang. Jadi, dalam
tulisan ilmiah tidak benar memilih kata “kebanyakan” kalimat di atas dapat kita
benahi menjadi Da’i di Gunung Kidul lima orang lulusan perguruan tinggi, dan
yang tiga orang lagi dari lulusan pesantren.
4. Tepat.
Ide yang diungkapkan harus sesuai dengan ide yang dimaksudkan oleh rdaspemutus
atau penulis dan tidak mengandung makna ganda. Contoh: “Jamban pesantren yang
telah rusak itu sedang diperbaiki.” Kalimat tersebut mempunyai makna ganda,
yang rusaknya itu mungkin jamban atau mungkin juga pesantren.
5. Denotatif
yang berlawanan dengan konotatif. Kata yang digunakan atau dipilih sesuai
dengan arti sesungguhnya dan tidak diperhatikan perasaan karena sifat ilmu yang
objektif
6. Runtun.
Ide diungkapkan secara teratur sesuai dengan urutan dan tingkatannya, baik
dalam kalimat maupun dalam alinea atau paragraf kalimat yang mengemban satu ide
atau satu pokok bahasan.
Dalam
karangan ilmiah, bahasa ragam merupakan ragam bahasa berdasarkan pengelompokan
menurut jenis pemakaiannya dalam bidang kegiatan. Sesuai dengan sifat
keilmuannya, bahasa Indonesia harus memenuhi syarat diantaranya benar (sesuai
dengan kaidah bahasa Indonesia), logis, cermat, dan sistematis. Karangan ilmiah
mempunyai beberapa ciri diantaranya: jelas, logis, lugas, objektif, saksama,
sistematis, dan tuntas.
2.5
Laras
Ilmiah
Dalam
uraian di atas dikatakan bahwa setiap laras dapat disampaikan dalam ragam
standar, semi standar, atau non-standar. Akan tetapi, tidak demikian halnya
dengan laras ilmiah. Laras ilmiah harus selalu menggunakan ragam standar.
Sebuah
karya tulis ilmiah merupakan hasil rangkaian gagasan yang merupakan hasil
pemikiran, fakta, peristiwa, gejala, dan pendapat. Jadi, seorang penulis karya
ilmiah menyusun kembali pelbagai bahan informasi menjadi sebuah karangan yang
utuh. Oleh sebab itu, penyusun atau pembuat karya ilmiah tidak disebut pengarang melainkan disebut penulis (Soeseno, 1981: 1).
Dalam
uraian di atas dibedakan antara pengertian realitas dan fakta. Seorang
pengarang akan merangkaikan realita kehidupan dalam sebuah cerita, sedangkan
seorang penulis akan merangkaikan berbagai fakta dalam sebuah tulisan.
Realistis berarti bahwa peristiwa yang diceritakan merupakan hal yang benar dan
dapat dengan mudah dibuktikan kebenarannya, tetapi tidak secara langsung
dialami oleh penulis. Data realistis dapat berasal dari dokumen, surat
keterangan, press release, surat
kabar, atau sumber bacaan lain, bahkan suatu peristiwa faktual. Faktual berarti
rangkaian peristiwa atau percobaan yang diceritakan benar-benar dilihat,
dirasakan, dan dialami oleh penulis. (Marahimin, 1994: 378)
Karya
ilmiah memiliki tujuan dan khalayak sasaran yang jelas. Meskipun demikian,
dalam karya ilmiah aspek komunikasi tetap memegang peranan utama. Oleh
karenanya, berbagai kemungkinan untuk penyampaian yang komunikatif tetap harus
dipikirkan. Penulisan karya ilmiah bukan hanya untuk mengekspresikan pikiran
tetapi untuk menyampaikan hasil penelitian. Kita harus dapat meyakinkan pembaca
akan kebenaran hasil yang kita temukan di lapangan. Dapat pula, kita
menumbangkan sebuah teori berdasarkan hasil penelitian kita. Jadi, sebuah karya
ilmiah tetap harus dapat secara jelas menyampaikan pesan kepada pembacanya.
Persyaratan
bagi sebuah tulisan untuk dianggap sebagai karya ilmiah sebagai berikut
(Brotowidjojo, 1988: 15-16):
a. Karya
ilmiah menyajikan fakta objektif secara sistematis.
b. Aplikasi
hukum alam pada situasi spesifik.
c. Karya
ilmiah ditulis secara cermat, tepat, benar, jujur, dan tidak bersifaat terkaan.
Dalam pengertian/jujur/terkandung sikap etik penulisan ilmiah, yakni penyebutan
rujukan dan kutipan yang jelas.
d. Karya
ilmiah disusun secara sistematis, setiap langkah direncanakan secara
terkendali, konseptual, dan prosedural.
e. Karya
ilmiah menyajikan rangkaian sebab-akibat dengan pemahaman dan alasan yang
induktif, yang mendorong pembaca untuk menarik kesimpulan.
f. Karya
ilmiah mengandung pandangan yang disertai dukungan dan pembuktian berdasarkan
suatu hipotesis.
g. Karya
ilmiah ditulis secara tulus. Hal ini berarti karya ilmiah hanya mengandung
kebenaran faktual sehingga tidak akan memancing pertanyaan yang bernada
keraguan. Penulis karya ilmiah tidak boleh memanipulasi fakta, tidak bersifat
ambisius, dan berprasangka. Penyajiannya tidak boleh bersifat emotif.
h. Karya
ilmiah pada dasarnya bersifat ekspositoris. Jika pada akhirnya timbul kesan
argumentatif dan persuasif, hal itu ditimbulkan oleh penyusunan kerangka
karangan yang cermat. Dengan demikian, fakta dan hukum alam yang diterapkan
pada situasi spesifik itu dibiarkan berbicara sendiri. Pembaca dibiarkan
mengambil kesimpulan sendiri berupa pembenaran dan keyakinan akan kebenaran
karya ilmiah tersebut.
Berdasarkan
uraian di atas, dari segi bahasa dapat dikatakan bahwa karya ilmiah memiliki
tiga ciri yaitu:
a. Harus
tepat dan tunggal makna.
b. Harus
secara tepat mendefinisikan setiap istilah, sifat, dan pengertian yang
digunakan agar tidak menimbulkan kerancuan atau keraguan.
c. Harus
singkat, berlandaskan ekonomi bahasa.
Disamping
persyaratan tersebut, untuk dapat dipublikasikan sebagai karya ilmiah ada ketentuan struktur
atau format karangan yang harus baku. Ketentuan itu merupakan kesepakatan
sebagaimana tertuang dalam International Standardization Organization (ISO).
Publikasi yang tidak mengindahkan ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam ISO
memberikan kesan bahwa publikasi itu kurang valid sebagai terbitan ilmiah
(Soehardjan, 1997: 10). Struktur karya ilmiah (Soehardjan, 1997: 38) terdiri
atas judul, nama penulis, abstrak, pendahuluan, bahan dan metode, hasil dan
pembahasan, kesimpulan, ucapan terima kasih, dan daftar pustaka. ISO 5966
(1982), menetapkan agar karya ilmiah terdiri atas judul, nama penulis, abstrak,
kata kunci, pendahuluan, inti tulisan (teori metode, hasil, dan pembahasan),
simpulan dan ulasan, ucapan terima kasih, dan daftar pustaka. (Soehardjan,
1997:38).
2.6
Ragam
Bahasa Keilmuan
Menurut Soenaryo (1994: 1), bahwa dalam
berkomunikasi, perlu diperhatikan kaidah-kaidah berbahasa, baik yang berkaitan
kebenaran kaidah pemakaian bahasa sesuai dengan konteks situasi, kondisi, dan
sosiobudayanya. Pada saat kita berbahasa, baik lisan maupun tulis, kita selalu
memerhatikan faktor-faktor yang menentukan bentuk-bentuk bahasa yang kita
gunakan. Pada saat menulis, misalnya kita selalu memerhatikan siapa pembaca
tulisan kita, apa yang kita tulis, apa
tujuan tulisan itu, dan di media apa kita menulis. Hal yang perlu mendapat
perhatian tersebut merupakan faktor penentu dalam berkomunikasi. Faktor-faktor
penentu dalam berkomunikasi meliputi: partisipan, topik, latar, tujuan, dan
saluran (lisan atau tulis). Partisipan tutur ini berupa PI yaitu pembicara atau
penulis dan P2 yaitu pembaca atau pendengar tutur. Agar pesan yang disampaikan
dapat terkomunikasikan dengan baik, maka pembicara atau penulis perlu; (a)
mengetahui latar belakang pembaca/pendengar dan (b) memerhatikan hubungan
antara pembicara/penulis dengan pembaca/pendengar. Hal itu perlu diketahui agar
piliha bentuk bahasa yang digunakan tepat, agar pesannya dapat tersampaikan,
tidak menyinggung perasaan, menyepelekan, merendahkan, dan sejenisnya.
Topik tutur berkenaan dengan masalah apa
yang disampaikan penutur ke penanggap penutur. Penyampaian topik tutur dapat
dilakukan secara: (a) naratif (peristiwa, perbuatan, cerita); deskriptif
(hal-hal faktual: keadaan, tempat barang, dan sebagainya); (c) ekspositoris;
dan (d) argumentatif dan persuasif.
Ragam bahasa keilmuan mempunyai ciri:
1. Cendekia:
bahasa Indonesia keilmuan itu mampu digunakan untuk mengungkapkan hasil berpikir
logis secara tepat.
2. Lugas
dan jelas: bahasa Indonesia keilmuan digunakan untuk menyampaikan gagasan
ilmiah secara jelas dan tepat.
3. Gagasan
sebagai pangkal tolat: bahasa Indonesia keilmuan digunakan dengan orientasi
gagasan. Hal itu berarti penonjolan diarahkan pada gagasan atau hal-hal yang
diungkapkan, tidak pada penulis.
4. Formal
dan objektif: komunikasi ilmiah melalui teks ilmiah merupakan komunikasi
formal. Hal ini berarti bahwa unsur-unsur bahasa Indonesia keilmuan merupakan
unsur-unsur bahasa yang berlaku dalam situasi formal atau resmi. Pada lapis
kosakata dapat ditemukan kata-kata yang berciri formal dan kata-kata yang berciri informal.
(Syafi’ie, 1992: 8-9)
Contoh:
Kata
berciri formal
|
Kata
berciri informal
|
Korp
Berkata
Karena
Suku
cadang
|
Korps
Bilang
Lantaran
Onderdil
|
2.7
Laras
Ilmiah Populer
Laras
ilmiah populer merupakan sebuah tulisan yang bersifat ilmiah, tetapi
diungkapkan dengan cara penuturan yang mudah dimengerti. Karya ilmiah populer
tidak selalu merupakan hasil penelitian ilmiah. Tulisan ini dapat berupa
petunjuk teknis, pengalaman, dan pengamatan biasa yang diuraikan dengan metode
ilmiah. Jika karya ilmiah harus selalu disajikan dalam ragam bahasa yang
standar, karya ilmiah populer dapat disajikan dalam ragam standar, semi
standar, dan non-standar. Penyusun karya ilmiah populer akan tetap disebut
penulis dan bukan pengarang, karena proses penyusunan karya ilmiah populer sama
dengan proses penyusunan karya ilmiah. Pembedaan terjadi hanya dalam cara
penyajiannya. Seperti yang diuraikan di atas, persyaratan yang berlaku bagi
sebuah karya ilmiah berlaku pula bagi karya ilmiah populer. Akan tetapi, dalam
karya ilmiah populer terdapat pula persoalan lain seperti kritik terhadap
pemerintah, analisis atas suatu peristiwa yang sedang populer di tengah
masyarakat, jalan keluar bagi persoalan yang sedang dihadapi masyarakat, atau
sekadar informasi baru yang ingin disampaikan kepada masyarakat.
Jika
karya ilmiah memiliki struktur yang baku, tidak demikian halnya dengan karya
ilmiah populer. Oleh karena itu, karya ilmiah populer biasanya disajikan melalui
media surat kabar dan majalah, biasanya format penyajiannya mengikuti format
yang berlaku dalam laras jurnalistik. Pemilihan topik dan perumusan tema harus
dilakukan dengan cermat. Tema itu kemudian dikerjakan dengan jenis karangan
tertentu misalnya narasi, eksposisi, argumentasi, atau deskripsi. Secara lebih
perinci lagi, penulis dapat mengembangkan gagasannya dalam berbagai bentuk
pengembangan paragraf seperti pemecahan masalah, kronologis, perbandingan, atau
sudut pandang.
2.8
LANGKAH
– LANGKAH PENULISAN KARYA ILMIAH
A.
TAHAP
PERSIAPAN
1)
Persiapan
Penulisan Karya Ilmiah
Pada dasarnya, hal
terpenting yang harus dipikirkan oleh seorang penulis karya ilmiah pada tahap
persiapan ini adalah Pemilihan Topik. Ada beberapa hal yang perlu
dipertimbangkan pada saat menentukan topik untuk karya ilmiah. Dalam
penulisannya harus mengikuti kaidah kebenaran isi, metode kajian, serta tata
cara penulisannya yang bersifat keilmuan. Salah satu cara untuk memenuhi kaidah
tersebut adalah dengan melakukan pemilihan topik yang jelas dan spesifik.
Pemilihan untuk karya tulis ilmiah dapat dilakukan dengan cara:
1. Merumuskan tujuan
Rumusan tujuan yang jelas
dan tepat menjadi sangat penting untuk dapat menghasilkan karya tulis ilmiah
yang terfokus bahasannya. Tips yang dapat dilakukan untuk merumuskan tujuan
diantaranya;
1) Usahakan
merumuskan tujuan dalam satu kalimat yang sederhana;
2) Ajukan
pertanyaan dengan menggunakan salah satu kata tanya terhadap rumusan yang kita
buat;
3) Jika
kita dapat menjawab dengan pasti pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan,
berarti rumusan tujuan yang kita buat sudah cukup jelas dan tepat.
2. Menentukan Topik
Langkah pertama yang harus
dilakukan dalam menentukan topik adalah menentukan ide-ide utama. Kemudian uji
dan tanya pada diri sendiri apakah ide-ide itu yang akan kita tulis.
3.
Menelusuri
Topik
Bila topik telah ditentukan,
kita masih harus memfokuskan topik tersebut agar dalam penulisannya tepat
sasaran. Beberapa langkah yang dapat ditempuh dalam memfokuskan topik;
1) Fokuskan topik agar mudah dikelola;
2) Ajukan pertanyaan
4.
Mengidentifikasi
Pembaca Karya Ilmiah
Kewajiban seorang penulis
karya ilmiah adalah memuaskan kebutuhan pembacanya akan informasi, yaitu dengan
cara menyampaikan pesan yang ditulisnya agar mudah dipahami oleh pembacanya. Sebelum
menulis, kita harus mengidentifikasi siapa kira-kira yang akan membaca tulisan
kita. Hal tersebut perlu dipertimbangkan pada saat kita menulis karya tulis
ilmiah agar tulisan kita tepat sasaran.
5.
Menentukan
Cakupan Isi Materi Karya Ilmiah
Cakupan materi adalah jenis
dan jumlah informasi yang akan disajikan di dalam penulisan karya ilmiah.
2)
Pengumpulan
Informasi untuk Penulisan Karya Ilmiah
Perpustakaan pada umumnya
menyediakan berbagai koleksi data atau informasi yang terekam dalam berbagai
bentuk media, seperti media cetak dan media audiovisual. Hal pertama yang harus
kita lakukan pada saat memasuki perpustakaan adalah memahami di mana letak
sumber informasi yang dibutuhkan berada. Salah satu tempat yang patut kita tuju
adalah bagian referensi. Bagian referensi ini biasannya berisi koleksi tentang
encyclopedia, indeks, bibliografi, atlas dan kamus. Ada pun beberapa langkah
dalam pengumpulan informasi untuk penulisan karya ilmiah adalah sebagai
berikut:
1. Mencari Buku dengan Online Catalog dan Card Catalog
Pencarian buku dengan cara Online Catalog biasanya
menggunakan terminal komputer. Kita dapat mencari buku dengan judul dan nama
penulis yang jelas atau minta kepada komputer untuk mencarikan file-file yang
berkaitan dengan
topik yang sedang kita tulis.
Selain menggunakan komputer, kita juga dapat menggunakan Card Catalog untuk mencari buku atau artikel yang kita butuhkan. Pada umumnya, buku koleksi perpustakaan didata dalam 3 (tiga) jenis kartu katalog, yaitu katalog yang berisi data tentang pengarang/ penulis, judul buku dan subjek/ topik tertentu.
Selain menggunakan komputer, kita juga dapat menggunakan Card Catalog untuk mencari buku atau artikel yang kita butuhkan. Pada umumnya, buku koleksi perpustakaan didata dalam 3 (tiga) jenis kartu katalog, yaitu katalog yang berisi data tentang pengarang/ penulis, judul buku dan subjek/ topik tertentu.
2. Memeriksa Bahan-Bahan Pustaka yang Telah Diperoleh
Setelah bahan pustaka
terkumpul kita harus memeriksa bahan-bahan tersebut apakah sesuai atau tidak
dengan topik yang kita tulis. Cara memeriksa bahan pustaka tersebut adalah:
a. Atur waktu membaca
b. Bacalah secara selektif
c. Bacalah secara bertanggung jawab
d. Bacalah secara kritis
3. Membuat Catatan dari Bahan-bahan Pustaka
Salah satu cara terbaik
dan paling sederhana dalam membuat catatan ini adalah selalu mengacu pada kartu
indeks yang telah kita buat.
4. Membuat Ringkasan dan ‘Paraphrasing’
Disamping membuat
catatan, kita pun dapat membuat ringkasan atau paraphrasing dari sumber
bacaan yang kita dapatkan di dalam menunjang keberhasilan proyek tulisan kita.
5. Membuat Kutipan
Kita harus mengutip
dengan persis dan apa adanya pernyataan dari sumber bacaan yang kita gunakan
jika pernyataan tersebut merupakan pandangan mendasar dari penulis dan jika
kita ubah ke dalam bahasa kita sendiri akan mengaburkan arti sesungguhnya.
B.
TAHAP
PROSES PENULISAN
Tahap Penulisan merupakan
perwujudan tahap persiapan ditambah dengan pembahasan yang dilakukan selama dan
setelah penulisan selesai.
Ø Tahap Pra Penulisan
1.
Pemilihan
dan pembatasan topik
2.
Merumuskan
tujuan
3.
Mempertimbangkan
bentuk karangan
4.
Mempertimbangkan
pembaca
5.
Mengumpulkan
data pendukung
6.
Merumuskan
judul
7.
Merumuskan
tesis
8.
Penyusunan
ide dalam bentuk karangan atau outline
Ø Pemilihan Topik
a. Apa yang akan kita tulis?
b. Topik dapat diperoleh dari berbagai sumber.
c. Empat syarat: keterkuasaian, ketersediaan bahan, kemenarikan,
kemanfaatan.
d. Agar lebih fokus, topik perlu dibatasi.
Ø Tahap Penulisan Draf
a. Mengekspresikan ide-ide ke dalam tulisan kasar.
b. Pengembangan ide masih bersifat tentatif.
c. Pada tahap ini, konsentrasikan perhatian pada ekspresi/gagasan,
bukan pada aspek-aspek mekanik.
Ø Tahap Revisi
a. Memperbaiki ide-ide dalam karangan, berfokus pada penambahan,
pengurangan, penghilangan, penataan isi sesuai dengan kebutuhan pembaca.
b. Kegiatan: (a) membaca ulang seluruh draf, (b) sharing atau
berbagi pengalaman tentang draf kasar karangan dengan teman, (c) merevisi
dengan memperhatikan reaksi, komentar/masukan.
Ø Tahap Penyuntingan
a. Memperbaiki perubahan-perubahan aspek mekanik karangan.
b. Memperbaiki karangan pada aspek kebahasaan dan kesalahan mekanik yang
lain.
c. Aspek mekanik antara lain: huruf kapital, ejaan, struktur kalimat,
tanda baca, istilah, kosakata, format karangan.
Ø Tahap Publikasi
a. Tulisan akan berarti dan lebih bermanfaat jika dibaca orang lain.
b. Sesuaikan tulisan dengan media publikasi yang akan kita tuju.
C.
TAHAP
EVALUASI
Tahap terakhir yaitu
verifikasi atau evaluasi, apa yang dituliskan sebagai hasil dari tahap
iluminasi itu diperiksa kembali, diseleksi, dan disusun sesuai dengan fokus
tulisan. Ada lima kriteria yang bisa kita gunakan untuk mengevaluasi setiap
bagian dari menulis sebagai berikut :
1. Fokus.
Apa yang Anda menulis
tentang? Apa klaim atau tesis Anda membela? Kriteria ini adalah yang luas,
berkaitan dengan konteks, tujuan, dan koherensi dari sepotong tulisan. Apakah
topik Anda sesuai untuk tugas? Apakah Anda tetap pada topik itu atau terlena
pada garis singgung tidak membantu? Apakah Anda berfokus terlalu teliti atau
terlalu banyak? Misalnya, esai tentang Perang Saudara Amerika pada umumnya
mungkin terlalu luas untuk esai perguruan tinggi yang paling. Anda mungkin akan
lebih baik menulis tentang pertempuran tertentu, umum, atau kejadian.
2. Pembangunan.
Pembangunan berkaitan
dengan rincian dan bukti. Apakah Anda menyediakan cukup bahan pendukung untuk
memenuhi harapan pembaca Anda? Sebuah laporan penelitian yang tepat, misalnya,
biasanya mencakup banyak referensi dan kutipan untuk banyak karya lain yang
relevan beasiswa. Sebuah deskripsi lukisan mungkin akan mencakup rincian
tentang, komposisi penampilan, dan bahkan mungkin informasi biografis tentang
seniman yang melukisnya. Memutuskan apa rincian untuk menyertakan tergantung
pada penonton dimaksudkan sepotong. Sebuah artikel tentang kanker ditujukan
untuk anak-anak akan terlihat sangat berbeda dari satu ditulis untuk warga
senior.
3. Organisasi
Organisasi, sering
disebut “pengaturan,” menyangkut ketertiban dan tata letak kertas. Secara
tradisional, kertas dibagi menjadi, tubuh kesimpulan pengenalan, dan. Paragraf
terfokus pada gagasan utama tunggal atau topik (kesatuan), dan transisi di antara
kalimat dan paragraf yang halus dan logis. Sebuah rambles kertas kurang
terorganisir, melayang di antara topik yang tidak berhubungan dengan cara
serampangan dan membingungkan.
4. Gaya
Gaya secara tradisional
berkaitan dengan kejelasan, keanggunan presisi, dan. Sebuah stylist yang
efektif tidak hanya mampu menulis dengan jelas untuk penonton, tetapi juga bisa
menyenangkan mereka dengan bahasa menggugah, metafora, irama, atau kiasan.
Penata Efektif bersusah payah tidak hanya untuk membuat titik, namun untuk
membuatnya dengan baik.
5. Konvensi
Kriteria ini meliputi
tata bahasa, mekanik, tanda baca, format, dan isu-isu lain yang ditentukan oleh
konvensi atau aturan. Meskipun banyak siswa berjuang dengan konvensi,
pengetahuan tentang di mana untuk menempatkan koma dalam sebuah kalimat
biasanya tidak sepenting apakah kalimat yang berharga untuk menulis di tempat
pertama. Namun demikian, kesalahan yang berlebihan dapat membuat bahkan seorang
penulis brilian tampak ceroboh.
BAB 3
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Karya
ilmiah merupakan karya tulis yang isinya berusaha memaparkan suatu pembahasan
secara ilmiah. Yang membedakan karya ilmiah dengan karya tulis lainnya ialah,
karya ilmiah lebih mengacu kepada karya tulis yang menyusun dan penyajiannya
didasarkan pada kajian ilmiah dan cara kerja ilmiah.
Sebuah
karya tulis ilmiah merupakan hasil rangkaian gagasan yang merupakan hasil
pemikiran, fakta, peristiwa, gejala, dan pendapat. Jadi, seorang penulis karya
ilmiah menyusun kembali pelbagai bahan informasi menjadi sebuah karangan yang
utuh. Oleh sebab itu, penyusun atau pembuat karya ilmiah tidak disebut pengarang melainkan disebut penulis. Mengapa demikian ?, karena
seorang pengarang akan merangkaikan realita kehidupan dalam sebuah cerita,
sedangkan seorang penulis akan merangkaikan berbagai fakta dalam sebuah
tulisan.
Laras
ilmiah populer merupakan sebuah tulisan yang bersifat ilmiah, sama halnya
dengan laras ilmiah pada umumnya. Namun, pada laras ilmiah populer diungkapkan
dengan cara penuturan yang mudah dimengerti pembaca. Karena karya ilmiah
populer tidak selalu merupakan hasil penelitian ilmiah dan dapat disajikan dalam ragam bahasa yang standar serta tidak
selalu memiliki struktur yang baku. Pembedaan terjadi hanya dalam cara
penyajiannya, seperti diuraikan di atas.
3.2
Saran
Masih
banyak hal yang perlu dipelajari untuk lebih memahami dalam penulisan karya
ilmiah. Dengan memperbanyak mencari materi dan memahaminya akan menambah
pemahaman kita dalam penyusunan karya ilmiah. Sebagai seorang mahasiswa/i sudah
seharusnya kita memahami bagaimana penulisan karya ilmiah yang sesuai dengan
kaidah-kaidah yang baku. Sehingga kedepannya dalam penyusunan setiap karya
ilmiah tidak menemui kendala yang sulit.
Comments
Post a Comment